Senin, 25 Agustus 2008

Wakaf quran

SEHUBUNGAN semakin dekatnya bulan Ramadhan, maka pada kesempatan ini kami LAZ TPU AL Mumtaz mengadakan program tebar Al Qur'an melalui wakaf Al Qur'an. Dengan ini kami sampaikan informasi tersebut, Insya Allah untuk informasi silahkan hubungi LAZ TPU AL Mumtaz (0561)7005656



Eko Novianto

Direktur LAZ TPU AL Mumtaz Pontianak Kalbar

Kamis, 14 Agustus 2008

IBADAH MALIAH

Oleh Ust. Drs. Asmuni

Harta bisa menjadi faktor kebahagiaan dan bisa pula menjadi faktor kesengsaraan. Harta menjadi faktor kebahagiaan jika kita mengikuti petunjuk agama dalam pendekatan kepadanya, dan akan menjadi faktor kesngsaraan jika kita mengikuti hawa-nafsu dalam pendekatan kepadanya.

Betapa banyak orang yang mencucurkan air mata syukur setelah melihat orang yang lebih sengsara daripada dirinya, sehingga ia dengan sebagian hartanya yang berlimpah berinfaq untuk mereka yang lebih sengsara.

Dengan infaqnya ia bukan bertambah miskin akan tetapi bertambah mencucurkan air mata bahagia merasakan kedekatan pada Allah Sang Pencipta. Di sisi lain, betapa banyak orang yang berharta berlimpah, bahkan berstatus sosial tinggi dengan capaian ilmu yang banyak orang tidak mencapainya, menjalani sebagian penggalan kehidupannya dengan kesengsaraan di balik terali besi. Semoga tidak ada orang beranggapan bahwa terali besi layak juga untuk tempat tinggal orang-orang 'hezbat'. Na'udzu billah.

Ibadah adalah ungkapan yang memiliki daya caup luas, meliputi segala apa yang dicintai sekaligus diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik berupa perkataan atau perbuatan, baik lahir maupun batin. Dengan faktor diri kita dan harta, juga bisa muncul sejumlah ibadah. Dengan dua faktor itu akan muncul sejumlah unsur lain, semuanya menjadi sejumlah ibadah. Unsur-unsur lain itu : niat, jenis pekerjaan, manfaat pekerjaan, efisiensi waktu dalam bekerja, efektifitas kerja, langkah menuju dan dari tempat kerja, silaturrahim dengan kolega kerja, manfaat hasil kerja, memberi contoh dalam kerja, berlomba yang baik dalam kerja, menyiapkan diri untuk kerja dan lain sebagainya.

Dengan ilmu dari Allah dan kekuatan dariNya orang bekerja dan mendapatkan hasil kerja berupa harta. Dengan harta yang ia dapat, niat yang bersih, kecintaan kepada Allah dan RasulNya, penuh harap kepadaNya, kesadaran bahwa hanya dengan 'potensi' dari Allah-lah ia bekerja dan mendapatkan hasilnya, kesadaran bahwa apa yang 'diamanahkan' kepada dirinya bukan mutlak miliknya, kesadaran bahwa harta yang lebih dari kebutuhan harus ada yang 'dikekalkan' dan tidak hanya untuk dijadikan 'kotoran', kesadaran bahwa orang mati tidak akan membawa harta dan kalau ia membawanya tidak akan memberinya manfaat, kesadaran bahwa orang yang kita beri harta juga tidak akan mati dan membawa hartanya, kesadaran bahwa harta harus 'diekstrak' menjadi pahala berlipat-ganda, kesadaran bahwa pahala-lah yang bermanfaat bagi manusia ketika hidup di dunia dan di akhirat, maka orang akan suka beribadah dengan harta.

Dengan berinfaq untuk hal-hal dan kepentingan masyarakat banyak sehingga mereka turut menuai manfaat dari harta itu. Baik infaq wajib ketika telah memenuhi syarat-syaratnya atau dengan infaq sunnah karena cinta pahala ibadah dengan harta. Dia juga akan dengan 'lego dan legowo' menjauhkan dirinya dari harta yang tidak halal, bait materi harta itu ataupun cara mendapatkannya.

Kesadaran yang menunjukkan kecerdasan seseorang, Dengan demikian orang akan meyakini bahwa sungguh berbeda antara deposito di bank dengan pengekalan harta di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itulah keyakinan Rasulullah dan para sahabatnya ketika itu.

Mencari harta dengan niat memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, orang-orang yang menjadi tanggungan, biaya menunaikan ibadah haji, untuk beribadah zakat maal atau fithri, untuk infaq di jalan Allah lainnya, adalah ibadah yang sungguh luar biasa di sisi Allah dan sangat besar manfaatnya bagi sesama. 'Mencari harta' ibadah tersendiri dan 'menginfaqkannya' juga ibadah tersendiri. Lihat janji Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al Baqarah (2) : 261. Bahkan orang Arab sering mengatakan : وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ (sekalipun dengan sebiji kurma), karena manfaat infaq di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Niat kerja sebagaimana di atas juga menepis anggapan yang salah tetang firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (Qs. Ath-Thalaq : 3)

Letak kesalahan itu adalah pada keyakinan bahwa sekalipun makhluk tidak bekerja dia akan tetap mendapat rezeki dari jalan yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak diketahui oleh makhluk.

Penyebab paham yang salah itu adalah karena tidak memahami ayat yang berkaitan dengan ayat sebelum dan ayat sesudahnya. Ayat ini adalah akibat baik dari ayat sebelumnya, sehingga jika penyebab tidak terpenuhi maka akibat tidak akan muncul. Taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang disertai dengan tawakkal kepadanya adalah penyebab sedangkan pemberian rezeki dari jalan yang hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahuinya adalah akibatnya.

Dengan mengembangkan solidaritas sesama, pengertian ibadah yang bagus, kecintaan kepada Allah, RasulNya dan Islam, maka kehidupan dengan segala aktifitasnya sangat disayangkan jika tidak diniatkan ibadah. Termasuk pensikapan dan pendekatan kepada harta akan menjadi ibadah yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu Ta'ala a'lam.

Minggu, 10 Agustus 2008

DISTRIBUSI ZAKAT HARUS ADIL

Tim media center LAZ TPU Al-Mumtaz berkesempatan untuk bersilaturrahim ke PT Radio Diah Rosanti Pontianak untuk mewawancarai Pak Riduan berkenaan dengan pengelolaan zakat dan infaq. Pak Riduan atau lebih sering di sapa dengan Pak Iwan, adalah salah satu penyiar radio seinor dan juga seorang penceramah di Pontianak. Beliau sudah berkecimpung di dunia siaran sejak tahun 1968 dan tetap eksis sampai sekarang dibawah payung PT Radio Diah Rosanti yang mana beliau sebagai Direktur utamanya. Pak Iwan yang juga lebih akrab dipanggil Bang Long di udara ini, selain menjadi penyiar radio juga aktif membina majlis ta’lim dilingkungan Masjid Al-Manar dan juga biasa mengisi ceramah di majlis ta’lim di kota Pontianak. Beliau adalah sosok Da’i yang mendakwahkan islam melalui siaran Radio yang sering kita dengar melalui acara ”penuntun iman penyejuk hati” setiap jam 5 pagi dari hari senin sampai jum’at di Radio Diah Roasnti. Beliau selalu bersemangat untuk memberikan pencerahan bagi umat islam untuk kembali kepada Al-qur’an dan Hadist sebagai pedoman hidup umat islam. Berikut petikan wawancara dengan Pak Iwan.

Pak Iwan, dalam islam Zakat, Infaq dan shadaqah itu menjadi tabungan akhirat bagi ummat islam, sebenarnya seperti apa konsepnya yang diajarkan Rasulullah (dalil Al-Quran dan Hadis)?

Zakat, infaq dan shadaqah itu memang merupakan investasi untuk ummat islam dengan berbagi kepada yang tergolong kurang mampu, harta itu semakin diberikan akan semakin bertambah bukan berkurang karna Allah berjanji akan memberi balasan yang lebih baik dari apa yang sudah di berikan kepada orang lain. Hal ini juga berangkat dari rasa persaudaraan yang tinggi karna orang yang merasa bersaudaralah yang bisa peduli pada sesama, apalagi dalam islam sangat dianjurkan untuk peduli dan berbagi pada sesama, bukan hanya dengan melalui harta saja tapi bisa dengan membagi ilmu kepada orang lain itu juga tergolong shadaqah. Konsep zakat itu diajarkan Rasulullah melalui Alqur’an dan banyak sekali ayat yang berkenaan dengan kewajiban zakat ini, dan begitu pentingmya sehingga selalu disandingkan dengan Shalat yang sama-sama merupakan rukun islam. sesuai dengan surah Al-Baqarah ayat 43, ”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku.

Sebaiknya pendistribusian dana ZIS itu seperti apa pak Iwan? Karna kalau dilihat rata-rata ummat islam sering ber infaq tetapi kenapa masih banyak juga yang miskin?

Masih banyaknya orang miskin diakibatkan dari tidak meratanya pembagian zakat, infaq dan shadaqah karna lembaga yang menangani khusus pendataan belum memiliki data yang akurat, terkadang masih tumpang tindih dan standar kemiskinan juga belum jelas. Pembagian ZIS ini harus adil dan merata oleh karna itu harus ada yang fokus menangani data orang miskin sehingga pembagiannya tepat sasaran dan tidak menumpuk pada beberapa orang saja. Karna terkadang ada yang benar-benar butuh tapi tidak dapat, sedangkan yang masih bisa berusaha malah diberi bantuan. Bukankah hal ini tidak adil?

Menurut Pak Iwan apakah peran LAZ itu strategis untuk memecahkan masalah kemiskinan? Pada masa Rasulullah sendiri pengelolaan Baitul Maal seperti apa contohnya?

Seharusnya memang LAZ dan BAZ memiliki peran yang sangat penting dalam pengelolaan dana ZIS sebagai konsentrasi kerjanya. Hal penting yang harus dilakukan sebelum mendistribusikan dana ZIS harus membuat pendataan jumlah orang miskin. Dan langsung turun kelapangan untuk pendataan itu sehingga benar-benar akurat. Pada masa Rasulullah, pembagiannya sangat adil sehingga kaum muslimin pada masa itu benar-benar merasakan ni’matnya menjadi Muslim. Pada masa itu pula kesadaran untuk membayar zakat sangat tinggi, karna langsung diawasi oleh Rasulullah, tapi pembagian dana ZIS bukan hanya melalui Baitul Maal saja, para sahabat yang kaya biasanya langsung mengeluarkan infaq kalau melihat ada sahabat lain atau penduduk yang kesulitan finansial. Untuk mengumpulkan zakat pada masa Rasulullah dan sahabat, juga dengan cara door to door yaitu dengan menjemput zakat kaum muslimin yang tergolong muzakki dan dananya langsung di kelola negara. Hal ini pula yang harus dilakukan oleh LAZ dan BAZ yaitu mensosialisasikan zakat lebih aktif lagi bisa saja dengan door to door untuk mengajak berzakat supaya informasi tentang zakat benar-benar di pahami dan harus transparan dalam mengelola dananya sehingga para muzakki merasa tenang setelah membayar zakat serta jangan lupa mendoakan mereka yang membayar zakat supaya berkah. Itu tugas penting para amil zakat. Jadikan Rasulullah sebagai teladan lah intinya!

Kondisi sekarang ini semakin sulit pak Iwan, apa yang harus dilakukan ummat islam dalam menyikapi kondisi sekarang?

Yang harus dilakukan adalah kembalilah pada Al-Quran dan Sunnah, dan beberapa hal berikut ini:

1. banyaklah shalat dan bersabar, seperti Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah 153 ” Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Dalam kondisi sesulit apapun ingatlah selalu kepada Allah dan bersabar lah untuk itu, sabar disini bukan berarti berdiam diri tapi aktif dalam mencari jalan untuk menyelesaikan masalah, caranya dengan banyak shalat/do’a, bekerja dan hasilnya kita serahkan kepada Allah dengan kesabaran.

2. perbanyaklah Istigfar dalam Al-Qur’an surah Nuh 10-11, ” .......Mohonlah ampun kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat”. Dari ayat ini di jelaskan Allah akan menurunkan ni’matnya kepada manusia yang mengalami kesulitan dan diberikan jalan keluar dari kesulitan dengan memperbanyak istighfar. Pada masa Imam Hasan Al-Basri suatu hari didatangi oleh penduduk dan ingin mendapatkan solusi dari permasalahannya. Orang pertama datang dan bertanya, ”wahai Imam, hujan sudah lama tidak turun apa yang harus kami lakukan? Imam Hasan Al-Basri menjawab perbanyaklah Istighfar!”, orang kedua datang dan bertanya, ”saya sudah lama menikah dan belum dikaruniai anak? Jawab Imam perbanyaklah Istighfar!”, dan orang ketiga datang ”saya memiliki kebun tetapi tidak pernah berbuah? Jawab Imam perbanyaklah Istighfar!” seseorang bertanya ”wahai Imam kenapa dari tiga masalah engkau jawab dengan satu jawaban yaitu istighfar? Jawab Imam ”Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan kepada hamba-Nya yang banyak meminta ampun kepada-Nya. Oleh karna itu, apapun keadaan kita perbanyaklah Istighfar sehingga pertolongan Allah dekat dengan kita, InsyaAllah.

3. pemimpin kita harus memimpin sesuai dengan tuntunan Al-Qu’an dan Hadist, InsyaAllah masyarakat yang dipimpinnya akan sejahtera. Seperti yang di lakukan oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz pada masa pemerintahannya selama dua tahun saja, itu susah mencari orang miskin karna semuanya sudah sejahtera dan tidak ada lagi yang berhak menerima zakat.

4. umat islam harus banyak belajar tentang islam jangan menganut islam tradisional yang berdasarkan ajaran nenek moyang yang masih banyak campurannya dengan tradisi. Al-Qur’an menganjurkan kita IQRA’ atau membaca terutama membaca Al-Qur’an karna solusi hidup ini ada didalam Al-Qur’an dan lengkap kalau kita mau belajar. Tidak ada yang sulit kalau kita mau belajar dan berusaha maksimal. Jangan malas intinya.

Bagaimana caranya mengeluarkan Zakat, Infaq dan Shadaqah sesuai dengan tuntunan Syariah?

Pelajari Al-Quran dan hadist karna disitu banyak jawabannya, baca buku tentang zakat, dan banyak bertanya pada ahlinya. Intinya adalah ikuti cara Rasulullah, jangan tunggu harta banyak baru ingin shadaqah! Pada saat dapat penghasilan langsung saja dikeluarkan kepada dhuafa. Kepada orang kaya juga harus proaktif jangan tunggu di minta zakat dan infaqnya baru mau menyerahkan, tapi kapanpun menerima segera keluarkan. Urusan mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah bukan bulan Ramadhan saja, karna dhuafa juga bukan hanya ada di bulan Ramadhan tapi setiap hari selalu ada.

Pesan untuk ummat islam pak Iwan?

Pesan saya untuk seluruh ummat islam adalah BELAJAR tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya sehingga kita bisa menjadi islam yang kaffah, mudah peduli pada lingkungan apalagi kalau melihat orang susah dan karna ilmu adalah kunci sukses kita didunia dan diakhirat nanti. wallahu a’lam Bisshawaf. (Selvi)

Nama : Riduan Said, BSc

Panggilan : Iwan

TTL : 29 Oktober 1943

Alamat : Jl. Nurali No. 30 A Pontianak

Telpon : 739205

Profesi : DIRUT PT Radio Diah Rosanti Pontianak

Alamat Kantor: Radio Diah Rosanti Jl. Nurali No. 30 Pontianak

Motto : Berbuat, agar punya arti bagi lingkungan

Karir siaran : - Penyiar Radio Suara Tanjung Pura (1968)

- Penyiar RRI Pontianak

- Penyiar Suara flamboyan (1970) berubah jadi PT Radio Diah Rosanti (1973)-sekarang