Kamis, 14 Agustus 2008

IBADAH MALIAH

Oleh Ust. Drs. Asmuni

Harta bisa menjadi faktor kebahagiaan dan bisa pula menjadi faktor kesengsaraan. Harta menjadi faktor kebahagiaan jika kita mengikuti petunjuk agama dalam pendekatan kepadanya, dan akan menjadi faktor kesngsaraan jika kita mengikuti hawa-nafsu dalam pendekatan kepadanya.

Betapa banyak orang yang mencucurkan air mata syukur setelah melihat orang yang lebih sengsara daripada dirinya, sehingga ia dengan sebagian hartanya yang berlimpah berinfaq untuk mereka yang lebih sengsara.

Dengan infaqnya ia bukan bertambah miskin akan tetapi bertambah mencucurkan air mata bahagia merasakan kedekatan pada Allah Sang Pencipta. Di sisi lain, betapa banyak orang yang berharta berlimpah, bahkan berstatus sosial tinggi dengan capaian ilmu yang banyak orang tidak mencapainya, menjalani sebagian penggalan kehidupannya dengan kesengsaraan di balik terali besi. Semoga tidak ada orang beranggapan bahwa terali besi layak juga untuk tempat tinggal orang-orang 'hezbat'. Na'udzu billah.

Ibadah adalah ungkapan yang memiliki daya caup luas, meliputi segala apa yang dicintai sekaligus diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik berupa perkataan atau perbuatan, baik lahir maupun batin. Dengan faktor diri kita dan harta, juga bisa muncul sejumlah ibadah. Dengan dua faktor itu akan muncul sejumlah unsur lain, semuanya menjadi sejumlah ibadah. Unsur-unsur lain itu : niat, jenis pekerjaan, manfaat pekerjaan, efisiensi waktu dalam bekerja, efektifitas kerja, langkah menuju dan dari tempat kerja, silaturrahim dengan kolega kerja, manfaat hasil kerja, memberi contoh dalam kerja, berlomba yang baik dalam kerja, menyiapkan diri untuk kerja dan lain sebagainya.

Dengan ilmu dari Allah dan kekuatan dariNya orang bekerja dan mendapatkan hasil kerja berupa harta. Dengan harta yang ia dapat, niat yang bersih, kecintaan kepada Allah dan RasulNya, penuh harap kepadaNya, kesadaran bahwa hanya dengan 'potensi' dari Allah-lah ia bekerja dan mendapatkan hasilnya, kesadaran bahwa apa yang 'diamanahkan' kepada dirinya bukan mutlak miliknya, kesadaran bahwa harta yang lebih dari kebutuhan harus ada yang 'dikekalkan' dan tidak hanya untuk dijadikan 'kotoran', kesadaran bahwa orang mati tidak akan membawa harta dan kalau ia membawanya tidak akan memberinya manfaat, kesadaran bahwa orang yang kita beri harta juga tidak akan mati dan membawa hartanya, kesadaran bahwa harta harus 'diekstrak' menjadi pahala berlipat-ganda, kesadaran bahwa pahala-lah yang bermanfaat bagi manusia ketika hidup di dunia dan di akhirat, maka orang akan suka beribadah dengan harta.

Dengan berinfaq untuk hal-hal dan kepentingan masyarakat banyak sehingga mereka turut menuai manfaat dari harta itu. Baik infaq wajib ketika telah memenuhi syarat-syaratnya atau dengan infaq sunnah karena cinta pahala ibadah dengan harta. Dia juga akan dengan 'lego dan legowo' menjauhkan dirinya dari harta yang tidak halal, bait materi harta itu ataupun cara mendapatkannya.

Kesadaran yang menunjukkan kecerdasan seseorang, Dengan demikian orang akan meyakini bahwa sungguh berbeda antara deposito di bank dengan pengekalan harta di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itulah keyakinan Rasulullah dan para sahabatnya ketika itu.

Mencari harta dengan niat memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, orang-orang yang menjadi tanggungan, biaya menunaikan ibadah haji, untuk beribadah zakat maal atau fithri, untuk infaq di jalan Allah lainnya, adalah ibadah yang sungguh luar biasa di sisi Allah dan sangat besar manfaatnya bagi sesama. 'Mencari harta' ibadah tersendiri dan 'menginfaqkannya' juga ibadah tersendiri. Lihat janji Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al Baqarah (2) : 261. Bahkan orang Arab sering mengatakan : وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ (sekalipun dengan sebiji kurma), karena manfaat infaq di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Niat kerja sebagaimana di atas juga menepis anggapan yang salah tetang firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (Qs. Ath-Thalaq : 3)

Letak kesalahan itu adalah pada keyakinan bahwa sekalipun makhluk tidak bekerja dia akan tetap mendapat rezeki dari jalan yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak diketahui oleh makhluk.

Penyebab paham yang salah itu adalah karena tidak memahami ayat yang berkaitan dengan ayat sebelum dan ayat sesudahnya. Ayat ini adalah akibat baik dari ayat sebelumnya, sehingga jika penyebab tidak terpenuhi maka akibat tidak akan muncul. Taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang disertai dengan tawakkal kepadanya adalah penyebab sedangkan pemberian rezeki dari jalan yang hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahuinya adalah akibatnya.

Dengan mengembangkan solidaritas sesama, pengertian ibadah yang bagus, kecintaan kepada Allah, RasulNya dan Islam, maka kehidupan dengan segala aktifitasnya sangat disayangkan jika tidak diniatkan ibadah. Termasuk pensikapan dan pendekatan kepada harta akan menjadi ibadah yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu Ta'ala a'lam.

Tidak ada komentar: